Tampilkan postingan dengan label inspirator. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirator. Tampilkan semua postingan

Seekor Burung Pipit

Alkisah Suatu malam udara terasa dingin. Seekor burung pipit sudah melewati dua malam di tempat terbuka dan hanya berlindung di pepohonan yang jarang daunnya. Karena si pipit merasa tidak mampu bertahan di malam ketiga, maka pergilah ia mencari tempat berlindung yang lebih baik.

Tapi saat terbang, tubuhnya semakin kedinginan, hingga sayap-sayap kecilnya terasa membeku dan akhirnya si pipit terjatuh d permukaan tanah. Begitu terbaring di atas tanah dalam keadaan membeku si pipit sadar akhir hidupnya sudah kian mendekat. Si pipit berharap kematian cepat menjemputnya.

Namun tiba tiba dalam kondisi setengah sadar ia merasa tubuhnya terbungkus sesuatu yang hangat. Setelah sadar si pipit baru tahu sesuatu yang menghangatkan tubuhnya itu ternyata berasal dari seekor sapai yang baik hati. Si sapi telah menjatuhkan setumpuk endapan kontoran di selurh badan si pipit.

Kehangatan endapan itu memberikan nafas kehidupan baru bagi si pipit dan perasaan nyaman itu membuat si pipit merasa sangat bahagia. Karena itu, mulailah si pipit bersenandung. Tanpa di sadari, seekor kucing yang sedang lewat mendengar suara siulan si pipit. Dicarilah sumber suara itu yang berasal dari timbunan kotoran. Dengan perlahan, si kucing mengorek-korek timbunan itu hingga menemukan si pipit kecil, lalu memakannya..

Dari kisah dia atas, kita bisa mengambil pesan moral yang bisa di terapkan dalam kehidupan kita masing-masing :
1. Jika seseorang menyakiti kita sengaja ataupun tidak, belum tentu mereka itu adalah musuh kita.
2. Jika seseoarang beruasaha membantu kita, belum tentu juga mereka itu adalah teman kita.
3. Tidak perlu menyatakan rasa bahagia secara berlebihan, karena masih banyak "bahaya" yang mengintai kita.


hidup itu indah

Sepenggal kisah luar biasa dari seorang supir taksi bersama seorang penumpangnya

Dikisahkan seorang sopir taksi menjemput penumpangnya. Dia tiba di alamat ang di tuju dan membunyikan klakson. Setelah menunggu sebentar, Dia kembali mengklakson. Karena ini adalah tumpangan terakhir, dia terpikir untuk pergi begitu saja. Tapi entah kenapa dia malah memarkirkan mobil taksi di taman terdekat dan berjalan menuju alamat tadi, lalau mengetuk pintu depannya. "Tunggu sebentar," terdengar suara lemah dari dalam rumah. Dia bisa mendengar sesuatu sedang ditarik sepanjang lantai.

Setelah beberapa lama tidak ada tanda apa pun, akhirnya pintu terbuka. tampak seorang ibu tua betubuh mungil yang kira-kira berusia 90 tahun. Tubuhnya berbalutkan baju print dress dan topi kotak. Penampilannya seperti karakter dalam sebuah film tahun '40-an. Di sisinya ada sebuah koper kecil berbahan nilon. Rumah itu tampak seperti bangunan yang tak pernah di tinggali selama bertahun-tahun. Semua perabotnya tertutup kain putih. Tidak terlihat jam dinding yang menggantung juga tidak ada barang pajangan di atas meja pajangan. Di pojokan tampak sebuah kardus besar berisi foto-foto dan barang pecah belah.

"Bisa tolong bantu bawakan koper saya ke dalam mobil?" tanyanya. Dia pun mengangkat koper itu ke dalam taksi, lalu kembali untuk membantunya berjalan. Sang ibu menerima uluran tangan dan mereka berjalan perlahan menuju pinggiran trotoar. Dia tak henti-hentinya berterimakasih atas kebaikan sopir. "tidak apa-apa, Bu" Jawab dia. "Saya berusaha memperlakukan penumpang saya seperti ibu saya."

"Oh, kamu memang anaka baik," kata ibu tadi. ketika mereka sudah ebrada di dalam taksi, ibu itu memberikan secarik kertas yang berisi alamat dan bertanya, "bisakah kamu lewat pusat kota?"

'Tapi itu bukan jalur terdekat," jawab sopir dengan cepat."Oh tidak apa-apa kok," katanya. "Saya sedang tidak terburu-buru. saya akan menuju ke panti jompo."

Sopir melirik ke belakang lewat kaca spion. Mata ibu itu berkaca-kaca. " Saya tak punya keluarga lagi," katanya dengan suara pelan." Dokter bilang waktu saya tidak lama lagi." Sopir pun langsung mematikan argo."Mau lewat rute yang mana?" tanya sopir


Dua jam berikutnya mereka menyusuri jalanan pusat kota. Ibu itu menunjukan bangunan tempatnya dulu bekerja sebagai operator lift. Lalu mereka melewati perumahan yang pernah di tinggali dengan suaminya ketika masih pengantin baru. Ibu tadi meminta sopir meminggirkan taksi di depan sebuah gudang furnitur yang dulu menjadi ruangan dansa tempatnya pernah berdansa sewaktu masih muda. Kadang ibu meminta sopir untuk bergerak lambat di depan sebuah bangunan tertentu atau di sudut jalan. Ibu duduk terdiam memandang di kegelapan.


Ketika matahari mulai terlihat semakin ke barat, ibu itu tiba-tiba berkata, "saya lelah. Ayo kita pergi sekarang." Mereka pun berkendara dalam diam menuju alamat yang di berikannya. Tempat tujuannya bebangunan rendah seperti sebuah rumah penyembuhan, dengan jalan mobil di depan serambi bertiang.

dua petugas keluar menghampiri taksi begitu sopir memakirkan mobil. Mereka terlihat sangat perhatian, mengawasi setiap gerakan ibu. Sopir membuka pintu bagasi dan membawa koper kecilnya ke depan pintu. ibu itu sudah duduk di sebuah kursi roda, " Berapa ongkosnya?" tanyanya kepada sopir.

"Tidak usah ," jawab sopir. "tapi kamu kan perlu cari nafkah."katanya lagi. " Masih ada penumpang lain." balas sopir tadi. Setelah itu sopir langsung membungkuk dan memeluknya. ibu itu balas memeluk sopir dengan erat. "Kau sudah memberi sedikit kebahagiaan pada wanita tua ini." katanya. "terimakasih ya"

Sopir menggenggam tanganya dan berjalan menuju taksi. Di belakang sebuah pintu tertutup rapat. itulah suara tertutupnya sebuah kehidupan. Setelah itu sopir tadi tidak mengambil penumpang lagi. Sopir hanya berputar-putar tanpa arah. Sisa hari itu, sopir hanya terdiam membisu. Bagaimana seandainya wanita itu mendapat seorang sopir taksi yang pemarah atau yang tidak sabaran untuk mengakhiri jam kerjanya? bagaimana jika sopir menolak permintaanya atau hanya sekali mengklakson lalu pergi begitu saja? Semua kejadian itu membuat sopir merenung bahwa selama hidup. Sopir belum pernah melakukan sesuatu yang lebih penting dari ini.

Kita sering kali di kondisikan untuk berfikir bahwa kehidupan kita berputar di seputar momen-momen penting. Tapi kadang momen-momen penting itu membuat kita tidak memperhatikan hal-hal terindah yang sering di abaikan oleh kebanyakan orang. Mari kita mulai meluangkan waktu sejenak lebih memperhatikan apa yang menghampiri hidup kita karena mungkin saja hal itu menjadi kejadian terindah dalam hidup kita..

Sandal sebelah

Seorang bapak tua hendak berpergian menggunakan kereta. Namun karena terburu-buru, ketika naik, sebelah sandalnya tersangkut di pintu dan jatuh ke rel. Ia hendak mengambilnya namun kereta terlanjur berjalan dan tak mungkin memintanya untuk berhenti. Sesaat kemudian, ia malah melakukan sesuatu yang tidak lazim. Si bapak tua dengan tenang melepas sepatu sebelahnya, lalu melemparkannya ke luar tak jauh dari sepatu tadi jatuh.

Kebetulan semua kejadian itu di perhatikan oleh seorang pemuda yang duduk di dalam kereta. Karena merasa penasaran , pemuda itu hendak bertanya langsung pada si bapak tua. Begitu bapak tua itu melewati tempak duduknya, si pemuda menyapanya ramah. "Pak, saya tadi sempat memperhatikan apa yg bapak lakukan. Boleh saya bertanya sesuatu?"

"Silahkan, Nak Apa yang ingin kau tanyakan?" ujar si bapak tua.

"Begini, Pak, Tadi Bapak sudah kehilangan satu sandal, lalu kenapa Bapak juga melemparkan sandal Bapak yang lain. Dengan begitu , bukankah Bapak sekarang tak punya alas kaki."

Si Bapak tua itu melihat pemuda itu sambil tersenyum, lalu menjawab dengan ramah, " Nak , seperti yang sudah kamu lihat tadi, saya sudah kehilangan satu sandal. Sandal yang terjatuh tadi mungkin akan di temukan oleh seseorang dan bisa saja dia itu orang yang tak berpunya. tapi apakah sandal yang cuma sebelah itu ada gunanya buatnya? Tidak kan? Sementara saya sendiri, apakah sepatu yang masih melekat di kaki saya tadi juga masih bermanfaat bagi saya ? tidak juga kan?. 

Jika saya melemparkan sepatu sebelahnya lagi, kemungkinan besar orang yang tadi menemukan sepatu saya akan menemukan pasangannya. Dengan begitu, septu itu bisa kembali berfungsi sebagaimana mestinya. Karena itulah saya melemparkan sepatu sebelah lagi supaya orang yang menemukannya bisa memanfaatkannya dengan baik."

Sepanjang masa hidup, kita hampir pasti akan merasakan suatu kehilangan. Entah itu berupa materi atau orang terkasih kita. Dan bagi kita kehilangan itu awalnya terlihat tidak adil. tapi jika kita renungkan lebih jauh lagi, kehilangan itu sejatinya terjadi agar ada perubahan positif dan berarti dalam hidup kita.

Berkeras mempertahankan apa yang kita miliki tidak membuat kita atau dunia di sekitar kita menjadi lebih baik. Tapi memberikan dengan ketulusan hati dapat membantu banyak orang dan membuat mereka bahagia.

Mandi yuks






Kualitas hidup seseorang bisa di lihat bagaimana ia mandi pagi. Boleh gak saya mengatakan seperti itu?? Bolah boleh saja.

Pada musim dingin atau sekarang ini yang gak tentu, kadang hujan kadang panas. Ya setiap pagi hawa dingin menusuk tulang membuat ketika mau mansi itu ragu-ragu. Takut dengan air karena begitu dinginnya. Mandi pagi yang dingin buka semata-mata tentang seberapa kuat kita menahannya tetapi tentang kesadaran untuk mengerti sekaligus menerima bahwa dingin itu tak bisa ditolak begitu aja dan tubuh harus mengahadapinya. Kata ibu "dingin ?? Kamu bisa bikin air jadi panas kan?"


Sesederhana nasihat ibu tentang mandi pagi, rupanya ada tiga kategori manusia berdasarkan bagaimana menghadapi dan menyelesaikan masalah.


Pertama :  Mereka yang kuat dan ingin selalu tampak kuat. Tak peduli seberapa dingin air dan cuaca, mereka akan memaksakan tubuhnya untuk 'kuat' dihajar dingin. Kategori ini memiliki semangat dan determinasi yang luar byasa dalam menghadapi masalah hidupnya. Mereka akan pasang badan untuk mengahadapi semuanya--melawan semua rasa sakit dan bencana dalam hidup mereka. Tetapi kadang-kadang kategori ini lupa bahwa manusia adalah makhluk yang serba terbatas dan pada dasarnya lemah pada titik tertentu, yang terus menerus di hajar, mereka bisa sakit juga , kan?


Kedua : Mereka yang lemah dan ingin selalu lari dari masalah. Bagi mereka, dingin adalah masalah yang tak perlu dihadapi. Kalau bisa, mandilah sesiang mungkin agar tak terlalu dingin. Bila perlu tak usah mandi. Tetapi, sudah terbukti sejak jutaan tahun yang lalu, lari dari masalah hanya akan mengantarkan manusia pada masalah lainnya, kan? Kata ibu, Masalah harus di hadapi dan di selesaikan, "Mau mandi jam lima, jam enam, atau jam sebelas , airnya tetap dingin, kok. Mungkin cuma sedikit bedanya. Tiga jam menunda mandi, untuk perbedaan yang sedikit? yang benar saja! Lebih baik mandi segera mungkin dan kerjakan urusan yang lain!"


Ketiga : Mereka yang selalu beradaptasi, Kategori ini sadar betul bahwa manusia memiliki sisi kuat dan sisi lemah dalam dirinya. mereka tahu apa yang sanggup mereka tahan dan apa yang tak sanggup mereka tahan. Sebab dalam rasa sakitlah manusia dapata menemukan kekuatannya, mereka tidak memilih untuk 'pura-pura kuat' atau menjadi lemah dengan lari dari maslah. Mereka memilih untuk beradaptasi dengan hidup yang mereka hidupi dan hidup yang ingin mereka hidupkan. Ya, mereka menghadapi maslah , Bukan untuk menolak atau melawannya, tetapi bernegosiasi dengan dirinya sendiri untuk mencari kemungkinan-kemungkinan terbaik agar mereka bisa menyelesaikan-- atau paling tidak menguarangi. Dalam perkara mandi pagi, mereka pandai memerhatikan situasi. Jika kuat ya mandi. Jika tidak seperti kata ibu: kita bisa bikin air jadi panas , kan?


Maka, Berbahagialah orang bisa bernyanyi di kamr mansi. dan bagi mereka yang mandi saja masih cemberut, segeralah sadar! jika hidup terasa sulit. Paling tidak, mandilah dengan berbahagia.



pasir ....

Cerita dari seorang tetangga ku yang baru aja lulus dari kuliah di perguruan tinggi. Tanpa pengalaman, berbekal ijazah dan impian yang besar, dia mulai menapakkan langkah mencari pekerjaan. Dia mengirim banyak surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan. Sayang harapan beda dengan kenyataan. Penolakan demi penolakan justru di terimanya. Tapi, saat diterimapun, ternyata pekerjaan yang didapat tidak sesuai dengan kemampuan dan kemauannya.

Saat dia merantau ke kota satu dan kemudian ke kota lain, keadaan tidak jauh beda. Kekecewaannya berulang lagi. Ia merasa kecewa pada pekerjaan, kecewa pada dirinya sendiri dan kecewa pada penerimaan oranglain terhadap dirinya yang tidak sesuai dengan harapan dan impiannya. Semua itu menyebabkan dia semakin hari merasa semakin stres, dan akhirnya berniat untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

untuk mewujudkan niatnya, ia memilih ke laut untuk tempat ia bunuh diri. Setibanya di tepi laut yang berombak besar, segera niatnya dilaksanakan. Diapun mengejar ombak dan melemparkan dirinya ke dalam ombak. Tetapi usahanya gagal, dia terbawa ke tepi pantai lagi. beberapa kali di ulangi tetap saja ia gagal.

Ia merenung dengan basah kuyup di tepi pantai tersebut. Datanglah nelayan setengah baya yang kebetulan melihat ulah tingkah dia. 
"Hei anak muda, kenapa engaku mau mengakhiri hidupmu dengan jalan pintas seperti itu?" tanya nelayan
"hidupku sungguh tak berarti, aku gagal!, aku kecewa pada semua, pekerjaan, diri sendiri dan masyarakat yang memandang remeh dan rendah diriku. Untuk apalagi aku hidup." jawab dia
"Anak muda cara berfikirmu itu salah! Pantas kamu mengambil jalan pintas. Lihatlah ini," nelayan itu berkata sambil segenggam pasir dan kemudian melemparkan ke depan. Pasir itupun berserakan bersama yang lain. Setelah itu dia berkata, "Pungutlah pasir yang Aku lempar tadi."
"Ah mana mungkin pasir tadi aku pungut lagi" jawab dia keheranan, tak tahu apa maksud nelayan tadi menyuruhn ya seperti itu
Melihat Dia masih bingung, Nelayan tadi mengambil benda dari kantongnya dan berkata, " pungutlah mutiara itu." Nelayan tadi lantas melemparkannya mutiara dari kantongya sama seperti melem[arkan pasir tadi. Dengan segera Dia memungut mutiara tersebut.






"Nah anak muda, dirmu saat ini, sama seperti butir pasir di pantai, tidak berbeda dengan pasir-pasir yang lainnya. Kalau kamu ingin diakui keberadaanmu dan memperoleh penghargaan dari oranglain, maka jadilah mutiara. Tetapi untuk bisa menjadi mutiara, perlu waktu dan perjuangan yang lama dan tidak ringan. Maka berhentilah mengeluh dan menyalahkan orang lain. Belajar dan poleslah diri dengan sungguh-sunguh dan jadilah mutiara tersebut di kemudian hari.
"terimakasih Pak, Saya sadar dan mengerti. Saya akan berubah dab nenoles diri dengan keras agar jadi mutiara sejati." 


Saat kita sadar dan mengerti bahwa meraih kesuksesan itu butuh yang namanya proses dan perjuangan, maka mentalitas kita akan semakin kuat. Dengan keberanian ketekunan dan keuletan, kita siap menghadapi setiap rintangan yang muncul, untuk meraih kesuksesan dan kehidupan yang jauh lebih bernilai. Mutiara yang indah lahir dari proses alam yang lama. Demikian juga diri kita untuk menjadi orang di hargai, disegani dan dihormati juga perlu pengorbana dan proses yang berliku dan memakan waktu lam. Tapi dengan satu tujuan pasti , kerja keras tekad baja , kita akan benar-benar menjadi mutiara yang berharga bagi diri sendiri dan orang lain.


Tidak ada yang sukses tanpa perjuangan. Tidak ada keberhasilan tanda di iringi peluh keringat dan kerja keras. Maju terus dan poles diri dengan semangat pantang menyerah! Raihlah kesuksesan dengan langkah pasti.

Masakan Impor

Ini cerita denger dari ruangan sebelah yang baru datang dari negeri seberang samudra. Tepatnya pulang dari jepang. Waktu itu dia ( yg baru dateng) kangen dengan masakan Indonesia yaitu Gudeg makanan khas jogja. Keliling kota tokyo cari rumah makan Indonesia dan langsung memesan Gudeg. Setelah dicicipi ternyata rasanya persis dan lebih enak dari Gudeg asli Yogyakarta. Hal ini yang buat penasaran. Dia panggil pemilik rumah makan tersebut lalu Bertanya, " Mas, Apa rahasianya , Kok Gudeg di sini rasanya pas dan lebih enak di bandingkan dengan tempat aslinya?"
"Oh.., itu karena nangkanya atau bahannya , Mas. Di yogya kan pakai nangka lokal, sementara disini memakai nangka impor." jawab sang pemilik rumah makan dengan nada yang sangat meyakinkan.
"memangnya impor dari mana?" tanya lagi Dia/
"dari Yogya, mas." :)


hehehehe....
pagi-pagi ketawa dulu yuks
Semangat ya

Bukan Awal dan Belum Akhir

Tahun berganti itu Cuma di tentukan dengan 1 detik saja.. 23:59:59 seperti itu gambaran pada jam digital di tangan maupun di dinding. Acap kali orang berfikir inilah awal lembaran baru atau sering bilang ini awal untuk menuju hal baru. Hmmmm .. rasanya ya biasa aja. Ada juga yang bilang di status FB atau di Twitter tahun 2012 akan lebih baik dari tahun 2011. Yakin???? ..
Ya itulah realita di masyarakat social yang ada di belahan dunia Indonesia. Life is choiche atau dalam bahasa manusia Indonesia hidup adalah pilihan. Mau yang baik atau yang buruk. So tinggal diri kita untuk memilih.
Alkisah, ada seorang pemuda miskin yang menemukan berlian di tengah jalan. Saking gembiranya dia pergi ke sebuah toko perhiasan, dengan harapan berlian itu bisa dia jual dan memperoleh uang yang cukup untuk makan dan minum.
Sesampai di toko tersebut, sang penjual mengatakan, “Wow.., berlian ini luar biasa. Dimana kau menemukannya?” Sang pemuda menjawab, ” Di jalan.” Penjual kembali menjelaskan, “Sungguh, jika aku tukar seluruh isi tokoku ini dengan berlianmu, mereka tidak akan sepadan. Pergilah ke toko di seberang jalan. Toko mereka lebih besar dan isinya juga lebih banyak dan bernilai daripada milikku.” Wah, berlian ini benar-benar bernilai, kata sang pemuda dalam hati.
Sang pemuda menuruti kata-kata sang pemilik toko pertama. Dia pergi ke toko kedua dengan harapan berlian itu terbeli. Namun ternyata, jawaban dari pemilik toko kedua sama. “Tokoku terlalu kecil untuk ditukar dengan berlian milikmu. Coba kau cari toko lain.”
Tiga toko, empat toko, hingga dua puluh toko perhiasan telah dimasuki. Namun tak satupun pemilik toko mampu membeli berlian miliknya. Akhirnya sang pemuda pergi ke istana raja. Harapannya sama, supaya raja mau menukar berlian ini minimal dengan harta yang cukup untuk makan dan minum.
Sesampai di kerajaan, raja pun berkata, “Sesungguhnya berlianmu ini sangat berharga, seluruh kerajaan ini tak mampu membelinya. Tapi aku mau membuat penawaran bagimu, meski tidak sepadan. Kamu memiliki waktu 10 jam untuk mengambil apapun dari kerajaanku. Harta, makanan, minuman dan sebagainya. Terserah.” Mata sang pemuda pun berbinar. 10 jam waktu yang cukup lama. Dia membuat perencanaan, makan minum sepuasnya selama 1 jam, 9 jam selanjutnya dia akan mengambil harta kerajaan.
Ketika sang pemuda disediakan makan dan minum, dirinya pun makan dengan lahapnya. Saking asyiknya, waktu yang tersisa tinggal 7 jam. Setelah itu dia pun minum sesukanya, saking lupa dirinya, dia menghabiskan waktu hingga sisa tinggal 4 jam. Karena kekenyangan diapun tertidur di karpet yang sangat empuk dan lembut. Dan akhirnya sang penjaga kerajaan membangunkannya.
“Hei pemuda miskin, bangun, ayo…pergi kau dari kerajaan kami. Waktumu sudah habis!” Sang pemuda yang baru saja bangun dari tidurnya pun gelagapan, “Hah…sudah habis, bolehkah aku minta waktu 5 menit saja untuk mengambil sedikit harta sebagai bekal?” “Tidak boleh, satu detikpun tidak akan kami beri. Salahmu sendiri. Kau sudah diberi waktu 10 jam tapi kau sia-siakan. Sekarang enyah kau dari kerajaan kami!” Sang pemuda miskin pun akhirnya diusir dari kerajaan tanpa membawa satu bekal apapun.
Cerita di atas mengingatkan kita supaya tidak menyiakan berlian yang kita miliki. Berlian itu sangat bernilai. Berlian yang dimaksud adalah waktu. Setiap detik waktu sangat berharga. Bahkan bumi dan seisinya pun tak mampu membelinya. Acapkali kita juga terlalu terlena dengan dunia, lebih memperturutkan hawa nafsu daripada mengambil bekal. Padahal suatu saat kita akan “diusir” dari kerajaan dunia. Maka, mulai sekarang jangan sia-siakan berlian yang kita miliki. Pergunakan waktu sebaik-baiknya, untuk meraih kesuksesan, kebaikan dan kemanfaatan bagi semua.



Salam inspirasi

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @ayip_sourire